Teach Adv: Ada Pait-Paitnya Gitu

Yang namanya hidup didunia itu emang ngga ada yang stagnan ya. Ada aja. Kayak yang aku rasakan. Aku memang manusia yang baru saja, 19 tahun, hidup didunia. Kalo kata orang sih masih bau kencur. Belum tau apa-apa, setidaknya dari orang-orang yang usianya sudah lewat kepala empat.

Tapi bener. Aku mengakui. Banyak hal baru yang bahkan baru aku tahu sejak aku lulus SMA. Epic,  —

Jadi ceritanya, masa-masa awal menjadi guru itu seseuatu hal yang unik buatku. Ngga tau euforia ini akab bertahan lama atau sebatas awal saja. Intinya sejauh ini aku merasa bahwa menjadi guru TK, sementara, itu hal yang benar-benar seru. Bebas hambatan kayak jalan tol.

Sampai pada suatu ketika, saat kondisi sekolah dan lingkungan tidak memungkinkan aku ‘lalai’ dengan muridku. Pada saat itu aku dan partnerku sedang kewalahan karena salah satu murid kami pup di celana. Saai itu jam istirahat, kupikir anak-anak yang lain bisalah ditinggal barang sebentar untuk ku tinggal mengambil pakaian ganti dan kantong kresek.

Itu paling hanya membutuhkan waktu 10 menitan.

Dan, seorang guru dari kelas lain menggandeng seorang muridku yang sedang menangis. Saat kutanya kenapa, ternyata dia keluar pagar sekolah mencari ibunya dengan menangis sambil mengatakan,

“Aku ngga mau sekolah disini, aku di usir diaa.”

Kontan aku cuma senyum. Ada aja bahasanya. Tapi apa yang malah memperkeruh suasana? Iya, wali siswa. Sedikit “sensi” dengan hal itu. Benar sih mana ada orang tua yang mau anaknya bisa pergi-pergi seenaknya gitu kalo sekolah. Mestinya orang tua juga berharap pelayanan guru yang terbaik untuk anaknya. Iya, aku akui aku lalai sih.

Dan itulah yang bikin aku belajar. Belajar bahwa segala hal yang terjadi pasti ada naik-turunnya, bahwa segala hal yang bahkan menurut kita sudah dilakukan semaksimalnya masih saja ada celahnya. Itu mungkin peringatan, biar selalu sigap.

Meski harus aku akui itu berasa kayak ada pait-paitnya gitu :))

17 Februari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maher Zain: One Big Family, Nuansa Baru Ditengah Degradasi Rasa Persaudaraan

Ambigu

Pulang